TANGERANG – Sebanyak 125,75 hektare sawah di Kabupaten Tangerang terdampak kekeringan. Jumlah tersebut berdasarkan data pemantauan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Provinsi Banten hingga 27 Agustus 2026.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengatakan lahan pertanian yang terdampak tersebar cukup luas, yakni di 16 kecamatan dan 44 desa.
“Berdasarkan data kerusakan tanaman padi akibat kekeringan MT 2026 dari POPT Provinsi Banten, luasan areal pertanian terdampak di Kabupaten Tangerang seluas 125,75 hektare. Data tersebut per 27 Agustus 2026,” ujar Ujang, Rabu 2 September 2026.
Tanaman padi yang terdampak, kata dia, merupakan sejumlah varietas yang banyak dibudidayakan petani, di antaranya Inpari dan Ciherang.
Menurut Ujang, angka tersebut masih berpotensi bertambah Pasalnya, pemerintah daerah bersama jajaran terkait masih melakukan inventarisasi dan pendataan untuk mengetahui perkembangan luasan sawah yang terdampak kekeringan.
“Jika melihat perkembangan prakiraan cuaca dari BMKG, kami masih terus melakukan inventarisasi dan pendataan terkait jumlah areal lahan sawah yang terdampak,” katanya.
Di tengah ancaman kekeringan itu, Ujang menjelaskan, pihaknya menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian sekaligus membantu petani yang mengalami kerugian akibat puso.
Pemkab Tangerang berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menyiapkan berbagai program dan infrastruktur pendukung pengairan pertanian.
Sejumlah program yang disiapkan antara lain IRPOM, IRPIP, JIAT, serta program PM-AAS. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan benih pengganti bagi petani yang tanaman padinya mengalami puso akibat kekeringan.
“Program itu untuk membantu petani untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian yang mengalami gagal panen,” katanya. (*)




