BerandaEnterpreneurJAM Street Platform Ojek Online Lokal Penantang Grab dan Gojek

JAM Street Platform Ojek Online Lokal Penantang Grab dan Gojek

TANGERANG – JAM Street merupakan platform ojek online yang diciptakan oleh warga Kabupaten Tangerang, Zulkarnain, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat secara lokal. Gagasan Ojek Street ini sederhana, yaitu driver benar-benar memiliki pasar dan pelanggan sendiri.

“Ojek Street ini program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bagaimana kita menciptakan, mengoptimalkan kekuatan yang ada di masyarakat,” ujar Zulkarnain saat diwawancarai, Selasa 15 September 2026.

Gagasan tersebut lahir dari kegelisahannya melihat besarnya potensi ekonomi masyarakat Indonesia yang menurutnya belum sepenuhnya digarap oleh kekuatan lokal.

Zulkarnain melihat, industri aplikasi layanan transportasi dan perdagangan digital selama ini banyak diisi pemain besar, termasuk perusahaan asing. Padahal, menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu membangun dan mengembangkan sistem sendiri.

“Selama ini kita lihat aplikasi ini dikuasai oleh asing. Sedangkan kekuatan kita, kemampuan putra-putra kita bisa bersaing dengan kekuatan asing. Makanya lahirlah Ojek Street,” katanya.

Banten menjadi pijakan awal. Dari daerah ini, Ojek Street ingin membangun jaringan masyarakat sebelum perlahan memperluas jangkauan ke berbagai wilayah Indonesia.

Konsep yang ditawarkan pun tidak sekadar menghadirkan aplikasi transportasi. Ojek Street mencoba membangun sebuah ekosistem yang mempertemukan driver, konsumen, pedagang, hingga pemilik usaha kecil dalam satu jaringan.

Bahkan, untuk menjadi driver, masyarakat tidak dibebani biaya pendaftaran. Helm dan jaket disiapkan secara gratis.

Tetapi ada satu syarat yang menjadi bagian dari konsep mereka: calon driver harus memiliki jaringan pelanggan.

“Kalau dia mau jadi driver, kami kasih helm, jaket gratis. Tapi syaratnya dia harus punya pelanggan dulu,” tutur Zulkarnain.

Caranya, calon driver diminta membangun jaringan setidaknya 50 orang yang berpotensi menjadi pelanggan. Dari jaringan itulah kemudian terbentuk pasar awal bagi driver.

Konsep ini sekaligus mengubah cara pandang tentang pekerjaan sebagai pengemudi ojek. Driver tidak lagi harus berdiam diri di pinggir jalan, panas-panasan, atau menunggu order di sekitar pusat keramaian.

Dengan jaringan pelanggan yang dibangun sejak awal, driver diharapkan dapat memperoleh order dari lingkaran masyarakat yang sudah terhubung dengan aplikasinya.

“Seandainya di rumah dia ada 100 yang dia rekrut, yang punya potensi sebagai penumpang atau menggunakan aplikasi ini untuk berbelanja, di situ kegunaan jaringan kita. Jadi otomatis terhubung, terbangun,” jelasnya.

Zulkarnain membayangkan aplikasi tersebut menjadi pintu masuk bagi berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk perdagangan kebutuhan sehari-hari.

Warung-warung tradisional menjadi bagian penting dalam konsep tersebut.
Masyarakat nantinya dapat membeli berbagai kebutuhan melalui aplikasi, sementara warung di lingkungan sekitar memperoleh ruang untuk menjadi merchant.

“Kita kerja sama dengan warung-warung makanan tradisional. Kita terhubung nanti kerja sama seperti warung-warung Madura. Anda mau beli rokok, mau beli apa, apa pun silakan pilih,” ujarnya.

Konsep itu, kata dia, diarahkan untuk menciptakan perputaran ekonomi yang lebih banyak dinikmati masyarakat lokal.

“Jadi dari kita untuk kita,” tegas Zulkarnain.

Bagi pedagang, kesempatan bergabung sebagai merchant juga diklaim tidak dikenakan biaya.

“Sebagai pedagang, kami memberikan kesempatan untuk bergabung di merchant kami, di aplikasi kami tanpa dipungut biaya. Murni 100 persen gratis,” katanya.

Sementara bagi driver, biaya aplikasi yang dikenakan disebut sebesar 5 persen. Angka tersebut, menurut Zulkarnain, dibuat lebih rendah dibanding batas tarif aplikasi yang ia sebut mencapai 8 persen.

“Untuk driver, kami mengenakan tarif aplikasi hanya 5 persen,” katanya.

Meski baru berjalan sekitar tiga bulan, Zulkarnain menyebut Ojek Street telah memiliki sekitar 20 ribu anggota.

Mayoritas berada di wilayah Banten, dengan sebagian lainnya mulai tersebar di Jakarta.

Angka tersebut menjadi modal awal bagi Ojek Street untuk memperluas jaringan sekaligus menguji konsep ekonomi berbasis komunitas yang mereka tawarkan.

Persaingan dengan platform lain pun tidak dianggap sebagai ancaman.
Zulkarnain justru melihat persaingan sebagai sesuatu yang sehat. Kuncinya, menurut dia, adalah menawarkan konsep yang berbeda.

“Bagi kami persaingan itu hal yang sehat. Di sinilah kita bangun bagaimana kita punya konsep beda daripada yang lain,” ujarnya.

Perbedaan tersebut salah satunya terletak pada sistem jaringan yang memungkinkan anggota memperoleh manfaat dari transaksi yang terjadi dalam jaringan yang mereka bangun.

Zulkarnain memberikan ilustrasi sederhana. Jika seorang driver memperoleh penghasilan Rp500 ribu, dengan potongan aplikasi 5 persen, maka nilai yang masuk sebagai bagian aplikasi sebesar Rp25 ribu.

Dari nilai tersebut, sebagian dialokasikan sebagai insentif bagi pihak yang membangun jaringan.

Menurutnya, pola tersebut diharapkan menciptakan manfaat ekonomi yang tidak hanya dirasakan oleh driver atau pedagang, tetapi juga oleh masyarakat yang ikut membangun ekosistem.

“Setiap orang tersebut melakukan transaksi di Ojek Street, dia akan mendapatkan bagian dari penghasilan sampai di lima level ke bawah,” katanya.

Bagi Zulkarnain, angka-angka itu bukan sekadar hitungan bisnis. Ia ingin menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kekuatan ekonomi jika dikumpulkan dalam satu jaringan yang saling terhubung.

Langkah Ojek Street masih berada di fase awal. Banten menjadi titik pijak, sementara mimpi yang dibawa jauh lebih besar: membangun platform lokal yang mampu menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia.

Zulkarnain menyadari perjalanan tersebut tidak sederhana. Namun, ia percaya kekuatan terbesar justru berada pada kebersamaan masyarakat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak melihat keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

“Jangan sampai kita berpikiran pesimis dalam berjuang. Harus optimis,” katanya.

Pada akhirnya, Ojek Street bukan hanya berbicara tentang aplikasi, tarif, driver, atau merchant. Di balik konsep tersebut terdapat gagasan tentang bagaimana masyarakat membangun pasar mereka sendiri, menghubungkan potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri, lalu mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi bersama.

Target Zulkarnain pun jelas: Ojek Street ingin tumbuh sebagai platform lokal yang berakar dari masyarakat Indonesia.

“Kami targetkan insya Allah kami menjadi tuan rumah di negeri Indonesia. Karena kami punya konsep beda daripada yang lain, karena kita menggerakkan ekosistem kebersamaan. Asal kita bersama, insya Allah kita kuat,” katanya. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
ADS

Most Popular