BerandaEditorialKatanya Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Kita Tidak Begitu Merasakannya?

Katanya Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Kita Tidak Begitu Merasakannya?

STRAIT ECONOMIC – Setiap kali pemerintah merilis data pertumbuhan ekonomi, angkanya sering terdengar meyakinkan. Ekonomi tumbuh 5 persen, investasi naik, konsumsi membaik, pembangunan berjalan di banyak daerah. Namun di sisi lain, banyak masyarakat justru merasa hidup semakin berat. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan dan kesehatan mahal, sementara penghasilan terasa jalan di tempat.

Lalu muncul pertanyaan sederhana: kalau ekonomi benar-benar tumbuh, kenapa banyak orang tidak ikut merasakannya?

Jawabannya sebenarnya cukup kompleks. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu otomatis berarti kesejahteraan dirasakan merata oleh seluruh masyarakat. Ibarat sebuah kue yang membesar, belum tentu semua orang mendapat potongan yang sama.

Dalam data ekonomi, pertumbuhan biasanya dihitung dari aktivitas produksi, investasi, perdagangan, hingga belanja masyarakat. Ketika ada pembangunan jalan tol, kawasan industri, atau pusat bisnis baru, itu semua masuk dalam hitungan pertumbuhan ekonomi. Masalahnya, dampaknya tidak selalu langsung terasa di kantong masyarakat kecil.

Banyak pekerja hari ini menghadapi situasi yang berbeda. Lapangan kerja memang ada, tetapi sebagian bersifat kontrak, informal, atau dengan upah yang tidak naik signifikan. Sementara kebutuhan hidup terus bergerak naik. Akibatnya, masyarakat merasa bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kondisi hidup yang sama.

Fenomena ini juga sering disebut sebagai growth without feeling atau pertumbuhan tanpa rasa. Angka makro ekonomi terlihat baik, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi sering kali lebih terkonsentrasi di kota besar atau sektor tertentu. Misalnya sektor teknologi, pertambangan, atau industri besar bisa mencatat keuntungan tinggi, tetapi pelaku UMKM, petani, nelayan, hingga pekerja informal belum tentu ikut menikmati hasilnya secara langsung.

Belum lagi soal daya beli. Banyak orang hari ini lebih berhati-hati mengeluarkan uang. Bukan karena tidak ingin belanja, tetapi karena ada rasa khawatir terhadap kondisi ekonomi ke depan. Akibatnya, masyarakat cenderung menahan konsumsi dan memilih menyimpan uang untuk kebutuhan mendesak.

Di media sosial, kondisi ini sering terlihat dari keluhan masyarakat tentang harga bahan pokok, cicilan, biaya sekolah, hingga sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Hal-hal kecil seperti makan di luar yang mulai dikurangi atau kebiasaan belanja yang berubah sebenarnya menjadi tanda bagaimana masyarakat sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

Namun bukan berarti pertumbuhan ekonomi tidak penting. Pertumbuhan tetap dibutuhkan agar negara memiliki ruang untuk membangun infrastruktur, membuka investasi, dan menciptakan lapangan kerja. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan itu bisa lebih berkualitas dan dirasakan lebih merata.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya soal angka statistik, tetapi juga tentang apakah masyarakat merasa hidupnya lebih tenang, lebih sejahtera, dan punya harapan untuk masa depan yang lebih baik. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
ADS

Most Popular