BerandaNewsNilai Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: “Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar Kok”

Nilai Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: “Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar Kok”

STRAIT ECONOMIC – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami tekanan dan sempat menyentuh kisaran Rp17.602 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadi perhatian publik karena dinilai dapat berdampak pada harga kebutuhan pokok, barang impor, hingga biaya hidup masyarakat.

Menanggapi hal itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap pelemahan rupiah. Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini masih relatif aman, terutama dari sisi pangan dan energi.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026). Dalam pidatonya, ia menyinggung adanya pihak-pihak yang dinilai terus menggiring opini bahwa Indonesia berada dalam kondisi krisis.

“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu, entah apa saya nggak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos, rupiah begini, rupiah begitu, dolar begini begitu,” ujar Prabowo.

Presiden menilai fluktuasi nilai tukar dolar tidak secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat di pedesaan. Ia menegaskan masyarakat lebih membutuhkan kestabilan pangan dan energi dibanding memikirkan pergerakan mata uang asing.

“Orang rakyat yang ada di desa enggak pakai dolar kok. Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” katanya.

Prabowo juga menegaskan Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan masih berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding sejumlah negara lain yang tengah menghadapi tekanan ekonomi global.

Selain menyinggung kondisi ekonomi, Presiden turut menyoroti pentingnya loyalitas para pemimpin terhadap bangsa dan negara. Ia mengingatkan para pejabat agar menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk kepentingan rakyat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita banyak yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi para unsur pimpinan harus setia kepada NKRI. Ini bukan rakyat, rakyat pasti setia karena nggak ada pilihan. Ini banyak unsur-unsur pimpinan teriak-teriak NKRI tapi nggak jelas. Begitu punya kekuasaan tidak berpihak kepada bangsa sendiri,” tegasnya.

Pelemahan rupiah sendiri terjadi di tengah tekanan ekonomi global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian pasar internasional. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran publik karena berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat. (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
ADS

Most Popular