STRAIT ECONOMIC – Dalam lima bulan terakhir, harga RAM mengalami pola yang cukup jelas: naik pada akhir 2025, mencapai puncak di awal 2026, lalu mulai turun kembali hingga April 2026. Pergerakan ini tidak terjadi secara acak, melainkan dipengaruhi oleh kondisi industri semikonduktor global, permintaan teknologi, serta kebijakan produksi dari produsen besar dunia.
Pada November 2025, harga RAM mulai naik. DDR4 16GB berada di kisaran Rp 1,0 – 1,5 juta, sementara DDR5 16GB berada di kisaran Rp 2,0 – 3,5 juta. Kenaikan ini terjadi karena meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data global. Melansir dari Windows Central, lonjakan kebutuhan server AI membuat pasokan DRAM lebih banyak dialihkan ke industri besar dibanding pasar konsumen, sehingga harga mulai terdorong naik.
Memasuki Desember 2025, kenaikan semakin terasa. DDR4 naik ke kisaran Rp 1,2 – 1,8 juta dan DDR5 mencapai Rp 2,5 – 4,0 juta. Stok di pasar mulai menipis dan distributor kesulitan mendapatkan harga lama dari pabrik. Melansir dari PC Gamer, ketidakseimbangan antara permintaan tinggi dan keterbatasan produksi menjadi faktor utama kenaikan harga DRAM pada periode ini.
Pada Januari 2026, harga RAM mencapai titik tertinggi sementara. DDR4 berada di kisaran Rp 1,3 – 2,0 juta dan DDR5 bisa mencapai Rp 3,0 – 4,5 juta. Kondisi ini dipicu oleh tingginya permintaan AI dan data center yang belum diimbangi pemulihan produksi. Melansir dari TechRadar, krisis pasokan memori global membuat harga DDR5 melonjak tajam dan menciptakan kekurangan stok di pasar konsumen.
Memasuki Februari 2026, harga masih berada di level tinggi tetapi mulai stabil. DDR4 berada di kisaran Rp 1,3 – 1,9 juta dan DDR5 di Rp 3,0 – 4,3 juta. Pasar mulai menyesuaikan diri setelah lonjakan besar sebelumnya, sementara produsen mulai meningkatkan produksi secara bertahap untuk menstabilkan pasokan.
Pada Maret 2026, harga mulai turun tipis. DDR4 turun ke kisaran Rp 1,2 – 1,8 juta dan DDR5 ke Rp 2,8 – 4,0 juta. Melansir dari laporan pasar semikonduktor global, peningkatan produksi dan melambatnya permintaan PC konsumen membuat harga mulai terkoreksi setelah fase puncak sebelumnya.
Memasuki April 2026, penurunan harga menjadi lebih jelas. DDR4 berada di kisaran Rp 1,2 – 1,6 juta dan DDR5 turun ke Rp 2,6 – 3,8 juta. Normalisasi stok dan peningkatan suplai dari produsen besar membuat tekanan harga mulai berkurang, sehingga harga kembali turun secara bertahap.
Secara keseluruhan, kenaikan harga RAM pada akhir 2025 hingga awal 2026 terutama disebabkan oleh lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan dan pusat data. Perusahaan besar seperti Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron Technology mengalihkan fokus produksi ke kebutuhan server, sehingga pasokan untuk pasar konsumen menjadi terbatas.
Selain itu, siklus industri semikonduktor juga berperan besar. Ketika permintaan tinggi dan pasokan terbatas, harga naik. Sebaliknya, ketika produksi ditingkatkan dan permintaan mulai melambat, harga kembali turun. Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar juga ikut mempengaruhi harga RAM di Indonesia karena sebagian besar produk masih impor.
Demikian, harga RAM selalu bergerak dalam siklus naik dan turun yang dipengaruhi oleh permintaan global, kapasitas produksi, serta kondisi ekonomi dunia, sehingga tidak pernah benar-benar stabil dalam jangka panjang.(*)



